Sore itu, aku berada dibawah purnama yang kusam. Aku gemetar, hati ku dikagetkan oleh rindu yang merona, pucat!

Di ujung langit senja, rindu itu mengalir dalam huruf-huruf yang kaku. Tak berhenti, tetapi tidak selaju awan-awan.

Aku tak melihat sesuatu pun, selain takut!
Mengapa engkau takut pada gelap?

Sementara kita bisa dipinjamkan sedikit waktu untuk menyalin cahaya?

Seperti udara, aku menghirup rindumu
Percakapan yang merobek-robek sukma
Menggelagat rindu itu terkoyak-koyak.

Sini, aku puisikan namamu
Kecewamu
Tawamu yang redup.

Kemarilah
Kita sulam rindu yang mulai kusam.

Bung Jhon

Author Bung Jhon

Saya adalah yang paling tahu siapa saya bahwa saya banyak tidak tahu.Sepanjang hidup, saya senang berfikir dan berefleksi di samping membaca. Anda tahu? saya menulis kemarin, minggu lalu, sebulan yang lalu dan setahun yang lalu; Saya baca hari ini: kini, saat ini, sekarang dan saya malu sekali. Saya malu karena tulisan saya datar, dan dangkal sekali maknanya.Saya tersadar: Bahwa menulis adalah seni mengungkapkan kebodohan.

More posts by Bung Jhon

Leave a Reply