Dosen ataupun guru, mereka pernah menjadi murid. Yang murid kelak menjadi guru. Oh iya, jangan lupa bahwasannya semua orang adalah guru!

Hitler adalah mantan murid. Apakah ia pun adalah guru pada konteks diatas? Bisa iya! Juga barangkali tidak dalam arti yang lain. Adolf, Sang Fuehrer, menggelar impian kolosal, melibatkan jutaan figuran yang berperan sebagai korban, mengupah jutaan aktor lain yang, seperti kata Bertrand Russell, “barangkali beberap diantaranya benar-benar manusia-manusia keji berdarah dingin, namun sebagian besar kurang lebih hanya gila.”

Apakah Si Fuehrer, adalah murid yang sekaligus guru, yang telah terkikis naluri kemanusiaannya? Ataukah sesosok pribadi yang diimpikan banyak orang?

Di kota kecil Linz yang suram di Austria saat itu, kala guru-guru berceloteh tentang Kekaisaran Romawi, Alexandre yang Agung, dan Napoleon Bonaparte. Sebagai murid yang “baik”, sudah tentu Adolf duduk rapi dibangku sekolah menengah yang kusam, dan tak ada yang tahu apalagi mengerti bahwa ia barngkali menyimak dan memupuk impian dengan segenap jiwanya!  Dan hari ini, ia, Sang Fuehrer masuk ensiklopedi tiran segala zaman. Dikutip dalam buku Menggugat Pendidikan.

 Itulah hari kemarin, yang menjadi cermin hari ini. Ketika menjadi murid, kini menjadi guru. Dalam hubungan Guru-Murid, Apakah Hitler memperoleh gagasan-gagasan brutalnya dan kehikmatan menjunjung prinsip-prinsip yang nyaris sepenuhnya berlawanan dengan akal? Sebetulnya ide menjadi dasar dari semua tindakan. Dangkalnya konsepsi kita tentang sesuatu menjadi dasar bagi tindakan yang membabi buta dan tuli.

Namun Koruptor, Kolutor, Nepotist, penista, penghujat, pemfitnah, pecundang, penghianat, yang suka menjilat ludah sendiri yang barngkali telah tertelan oleh debu-debu jalanan, sebetulnya lebih kejam daripada Sang Tiran.

Juga narsistik, menang sendiri, haram hukumnya “Saya” bermufakat dengan orang lain (Saya belum tahu apa istilah atau slogan yang cocok dengan ini), sikap tidak mau tahu tentang keberadaan dan kebagaimanaan manusia lain yang disertai kebenarannya masing-masing akhirnya “saya” saja lah yang benar. Seorang pun tidak!, membentangkan jalan bagi subjektivitas berpikir atas klaim tertentu dan disaat yang sama membuka jalan bagi obejektivitas berpikir – Ambivalensi!, tidak jauh berbeda dengan maksud diatas.

Tetapi apakah benar bahwa puncak dari pendidikan adalah Kesehatan Pikiran? Dan bukankah pendidikan dapat dipakai sebagai jimat peramal masa depan Si Terdidik?

Itulah masalah kita sebetulnya; tidak ada Universitas Tiran dan tidak ada Institut Konglomerat. Tidak ada juga Akedemi KKN hingga Narsistis. TOH nyatanya kita punya persediaan tiran yang tak pernah habis dan stok juragan besar yang berlimpah ruah. Juga disini sana, calon pecundang, penghkianat, penista barangkali, pendusta sedang belajar. Murid hari ini, menjadi guru besok!

Dari pada itu semua mengucur pertanyaan-pertanyaan mendasar; siapa atau apa sebenarnya guru itu? Apakah pendidikan itu? Apakah kita masih berenang dijambangan teori pendidikan, untuk dipelajari, diperdebatkan, dan diuji-coba?

Dengan demikian, apakah sistem pendidikan kita sudah mapan? Kok masih ada TIRAN? BERSAMBUNG..

Bung Jhon

Author Bung Jhon

Saya adalah yang paling tahu siapa saya bahwa saya banyak tidak tahu. Sepanjang hidup, saya senang berfikir dan berefleksi di samping membaca. Anda tahu? saya menulis kemarin, minggu lalu, sebulan yang lalu dan setahun yang lalu; Saya baca hari ini: kini, saat ini, sekarang dan saya malu sekali. Saya malu karena tulisan saya datar, dan dangkal sekali maknanya. Saya tersadar: Bahwa menulis adalah seni mengungkapkan kebodohan.

More posts by Bung Jhon

Leave a Reply