Dinda

Senja telah pulang menuju malam. Mata kita melihat gelap malam yang sama, pun di atas bumi yang sama. Hanya itukah kesamaan kita? Tidak Dinda. Kita sama-sama memiliki kerinduan dimana kita berdiri atau duduk berpanggangkan kehangatan senja sebagimana hal terdahulu yang sama dari kita.

Tidak begitu saja. Senja tahu waktunya untuk pergi dan saatnya untuk pulang. Sebagaimana kita yang mengembara jauh ini. Batas-batas bumi kita lewati sambil hidup di dalam rindu yang amat dalam dan jauh dari keterbatasan.

Aku melihat, senja yang sama akan menjumpai kita di esok hari dengan alasan bahwa kita selalu saling merindukan sebagimana langit dan senja saling merindukan.

Itu saja? Belum Dinda:
Bahwa malam adalah perhentian segala aktivitas yang melelahkan di bawah matahari. Tetapi kita tidak pernah lelah untuk saling merindukan, Bukan?

Selanjutnya, syukur kita ialah kita telah menghayati hari bersama senja di bawah langit yang sama dan memahami bahwa kehangatan senja yang bebas itu begitu terbatas.

Bung Jhon

Author Bung Jhon

Saya adalah yang paling tahu siapa saya bahwa saya banyak tidak tahu. Sepanjang hidup, saya senang berfikir dan berefleksi di samping membaca. Anda tahu? saya menulis kemarin, minggu lalu, sebulan yang lalu dan setahun yang lalu; Saya baca hari ini: kini, saat ini, sekarang dan saya malu sekali. Saya malu karena tulisan saya datar, dan dangkal sekali maknanya. Saya tersadar: Bahwa menulis adalah seni mengungkapkan kebodohan.

More posts by Bung Jhon

Leave a Reply