FilsafatMy Life QuotesRenungan

Manusia Tercerahkan

By August 25, 2019October 7th, 2019No Comments
Berpose di GPIB jemaat Siloam Pontianak

~Suatu catatan mengenai Iman manusia yang membumi ~

Kemurahan Allah yang diam di dalam diri manusia berarti menerima orang yang tidak diterima;

Pertama, menghargai orang yang tidak layak mendapatkan penghargaan. Dalam kehidupan sosial, penghargaan adalah sesuatu yang selalu menjadi buruan mahluk sosial. “Keagungan tertinggi datang dari pengakuan orang lain”, begitulah kira-kira pernyataan yang pernah saya baca dari buku yang salah lupa judulnya. Sedikit kaget memang, bahwa manusia selalu lapar akan pengakuan dunia bahwa ia bisa, atau setidak-tidaknya “layak” mendapatkan penghargaan.

Dalam beberapa hal, ada memang orang-orang yang karena potensi sosialnya ada, sehingga secara cuma-cuma mendapatkan pengakuan: Ada orang yang karena keringatnya untuk kemaslahatan masyarakat, memperoleh penghargaan. Sungguh, ada yang sebetulnya ‘sampah’ dalam masyarakat tetapi ingin menjadi emas dalam kehidupan sosial.

Sampah masyarakat kita memang tidak sedikit. Saking banyaknya, berbagai bencana sosial meletus dimana-mana. Demikianlah kemiskinan, gizi buruk, minimnya Pendidikan yang layak dan berbagai peristiwa yang memungkinkan batin berpulang pada penderitaan sebagai akibatnya.

Untuk suatu catatan, bahwa di dalam kehidupan sosial kita memang ada orang-orang yang hadir dalam konteks di atas sebagai pelaku dan korban. Terlebih lagi kepada mereka yang menjadi korban, dalam kondisi sosial tertentu selalu terabaikan. Mereka tidak dibutuhkan.

Inilah ujian bagi kita sebagai manusia beriman sekaligus mahluk sosial. Tanpa basa-basi, kita mesti tunjukkan kepada dunia bahwa Tuhan memang membantin dalam nurani kita. Demikianlah kita dapat menghargai mereka yang tidak layak mendapatkannya.


Kedua, menolong orang lain untuk berhasil. Dalam setiap perjuangan, semua orang berniat untuk berhasil. Hampir tidak sedikit orang yang berhasil karena keringatnya sendiri. Dengan demikian, apakah Anda termasuk orang yang membuat orang lain berhasil? Adalah sangat baik jika dari telunjuk mu, orang lain melihat wujud proses. Karena semua orang tahu bahwa hasil akan tunduk pada proses.


Ketiga, selalu berterima kasih. “Hai diriku, sudahkah engkau berterima kasih?” Bahwa ketulusan berterima kasih selalu berbanding lurus dengan kebaikan. Walaupun engkau tahu, suatu pemberian tidak dalam keadaan ikhlas, engkau harus menerimanya dengan tulus ikhlas.


Keempat, membebaskan diri dari keangkuhan. Keangkuhan selalu berada di dalam zona dimana manusia seolah-olah memuliakan Tuhan tetapi abai melayani sesamanya manusia – tidak mampu menerima mereka yang miskin dan terpinggirkan; juga selalu berambisi untuk menguasai semuanya – menganggap bahwa dirinya lebih layak dan mampu; menganggap orang lain tidak berarti, bahkan sebaik-baiknya pemberian dari mereka yang tersisihkan.

Bahwa manusia beriman, adalah mereka yang pikirannya tidak hanya tertuju kepada keagungan Tuhan Semesta, melainkan juga yang perasaan dan batinnya tercabik-cabik manakala menyaksikan alam dirusak, terlebih lagi merusak martabat manusia dan mengabaikannya.

Bagaimana mungkin engkau mengasihi Tuhan dengan menginjak sesamamu manusia?!

#Tercerahkan

Bung Jhon

Author Bung Jhon

Saya adalah yang paling tahu siapa saya bahwa saya banyak tidak tahu. Sepanjang hidup, saya senang berfikir dan berefleksi di samping membaca. Anda tahu? saya menulis kemarin, minggu lalu, sebulan yang lalu dan setahun yang lalu; Saya baca hari ini: kini, saat ini, sekarang dan saya malu sekali. Saya malu karena tulisan saya datar, dan dangkal sekali maknanya. Saya tersadar: Bahwa menulis adalah seni mengungkapkan kebodohan.

More posts by Bung Jhon

Leave a Reply