Puisi

Namamu adalah satu baris puisi yang baru saja engkau ketahui.

(Setelah membaca deskripsi ini)

Pulanglah

Pulanglah

Kau adalah langit yang dihiasi awan-awan. Aku menemukan mu dimana-mana. Kau luas terbentang di atas Kau megah tanpa batas Kau semesta. Aku menemukan mu dimana-mana. Siapkah gerangan yang mengakui mu seperti ini? Hanya aku! Si yang tak punya apa-apa selain…

Baca selengkapnyaPulanglah
Nama-mu

Nama-mu

Namamu adalah puisi, Hari-hari yang berlalu adalah barisan bait. Aku menyebut pertautan batin kita sebagai kekasih,Kejernihan dari proses batin dan pikiran. Yang mana, dahulu ku sulam hingga tiada terabaikan.Dan kini erat ku dekap dalam sukma,Berwarna dalam satu nada, rindu. Selepas…

Baca selengkapnyaNama-mu
Dua Puluh Lima

Dua Puluh Lima

Dua puluh lima hari Tidak ada yang abadi; Kebahagiaan itu koma Dalam waktu lama. Dua puluh lima hari Adalah waktu yang panjang; Mengenang yang hilang Menunggu yang tak pulang Menjemput yang tak datang, Menyerupai Hari tanpa siang. Dua puluh lima…

Baca selengkapnyaDua Puluh Lima
Kita yang Sama

Kita yang Sama

Dinda Senja telah pulang menuju malam. Mata kita melihat gelap malam yang sama, pun di atas bumi yang sama. Hanya itukah kesamaan kita? Tidak Dinda. Kita sama-sama memiliki kerinduan dimana kita berdiri atau duduk berpanggangkan kehangatan senja sebagimana hal terdahulu…

Baca selengkapnyaKita yang Sama
Kita yang Terbelah

Kita yang Terbelah

Sore itu, aku berada dibawah purnama yang kusam. Aku gemetar, hati ku dikagetkan oleh rindu yang merona, pucat! Di ujung langit senja, rindu itu mengalir dalam huruf-huruf yang kaku. Tak berhenti, tetapi tidak selaju awan-awan. Aku tak melihat sesuatu pun,…

Baca selengkapnyaKita yang Terbelah